DINAS PERTANIAN LAKUKAN PELATIHAN VAKSINATOR UNGGAS

Dinas Pertanian Ngawi lakukan Pelatihan Vaksinator Unggas Dalam Rangka Penanggulangan A I Tahun 2020.  Kegiatan yang dilakukan oleh Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Ngawi ini merupakan salah satu program yang bertujuan memberi bekal pada peserta pelatihan  yang berkaitan dengan penyakit Flu Burung, sehingga  peserta pelatihan  dapat meningkatkan pengetahuan tentang flu burung dalam upaya pencegahan dan penanggulangan, meningkatkan ketrampilan pencegahan penyakit flu burung dan  mencegah penyebaran penyakit tersebut .

Menurut  drh.  Triwahyu Yulistiani, M.H, kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi, menuturkan  kegiatan pelatihan ini di fokuskan pada penyebaran virus flu burung pada unggas, walau tergolong penyakit yang relatif baru tetapi saat ini menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang telah banyak menelan korban manusia dan unggas itu sendiri.

“ Kegiatan pelatihan vaksinator  telah dilaksanakan 5 kali, selama bulan April lalu dengan peserta 100 orang,   mengingat pelaksanaan kegiatan di tengah pandemic Covid -19, maka kegiatan diselenggarakan  menggunakan protokol kesehatan  dengan per pertemuan 20 orang dan menerapkan  social distancing,” tegas   Triwahyu Yulistiani.

Kegiatan pelatihan vaksinator yang dilaksanakan aula Dinas pertanian ini, diikuti  beberapa perwakilan dari kecamatan Ngawi, Pitu, Kasreman, Geneng, Gerih, Kedunggalar, Widodaren, Mantingan dan Kecamatan Karnganyar.  Dalam pelatihan ditekankan pada cara pendeteksian dini  tanda-tanda unggas yang terserang flu burung, serta cara pencegahannya.

Pada kesempatan tersebut, Triwahyu Yulistiani  memaparkan bahwa ada beberapa ciri khas unggas yang kena wabah flu burung, salah satunya, warna jengger biru keunguan, mengeluarkan cairan dari mata dan hidumg,  unggas ngorok,  bersin serta kematian unggas yang cepat dan  mendadak.  Sedang untuk penularannya dan penyebaran penyakit flu burung ini yang pertama lewat cairan atau lendir yang berasal dari hidung, mulut, dan mata , yang  kedua dari kotoran unggas yang sakit, yang ketiga kontak langsung dengan ternak yang sakit, melalui udara, air atau peralatan yang telah terkontaminasi virus flu burung,  bahkan flu burung bisa menyebar melalui alat transportasi yang tercemar virus tersebut. Menurut  Triwahyu Yulistiani yang akrab di panggil dengan sebutan bu Lis juga menjelaskan ada beberapa cara  untuk pencegahan penyebaran virus flu burung atau aqlvian Influensa ( AI)  yaitu dengan bio security,pengamanan secara biologis, menghidari kontak langsung antara hewan dan mikro organisme, misal mencuci tangan setelah memegang unggas atau produknya,  menggunakan masker saat masuk di kandang. Kedua memusnahkan Sumber penularan ( depopulasi selektif ) dengan cara mematikan unggas yang ada dalam satu kandang  atau daerah sekitar yang  dinyatakan positif AI (Avians Influensa ),  agar ayam  atau unggas yang masih hidup di daerah tersebut tidak menyebar kedaerah lain. Ketiga memberi vaksinasi pada unggas,  yang diberikan sebaiknya 2-3 kali dalam 1 tahun.  “ Disinilah tugas vaksinator setelah pelatihan ini diharap bersama masyarakat memberi vaksinasi pada unggas di sekitarnya,” ujarnya.   Ia juga menuturkan bahwa untuk memvaksin unggas tidak sekedar memasukan vaksin ketubuh hewan, aturannya (dosis) yang diberikan 0,5 cc untuk unggas dewasa, 0,2cc untuk unggas dibawah satu bulan. Vaksin yang digunakan , vaksin inaktif ( killed vaccine) , untuk umur 4-7 hari ,0,2 ml dibawah kulit pada pangkal leher,4-7 minggu,0,5 ml dibawah kulit pangkal kepala, umur 12 minggu 0,5 ml dibawah kulit pangkal leher, umur 3-4 bulan  0,5 ml pada Sotot dada. Keempat menyemprot desinfektan yang dapat membunuh mikroorganisme tertama dikandang, tempat pakan atau tempat berkumpulnya unggas. Penyemprotan dilakukan minimal seminggu 2 kali, sedang bahan desinfektan dapat berupa deterjen,formalin 2%,iodinone,senyawa fenol,natrium atau alum hipoklorik. Sedang langkah terakhir Public Awareness ( penyadaran yang terus menerus ) dengan memberi penyuluhan pada masyarakat secara terus menerus dengan tujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk memperhatikan unggas peliharaannya serta menyadarkan untuk berpola hidup bersih dan sehat.  (Wid)

Leave a Reply

Your email address will not be published.