SMP NEGERI 4 NGAWI CERDAS DAN BERTANGGUNG JAWAB

Moch. Dorarul Munir
Kepala SMPN 4 Ngawi

Tiap lembaga pendidikan pasti memiliki cara atau metode untuk memberi bekal pada anak didiknya, baik itu yang berkaitan dengan prestasi akademik maupun prestasi-prestasi lainnya diluar akademik. Pun SMPN 4 Ngawi yang berlokasi di sebelah kelurahan Karangtengah kota Ngawi. “ Kalau di sini, saya ingin semua warga sekolah menjadi insan yang cerdas dan bertanggung jawab, “ ujar Moch. Dorarul Munir, selaku kepala sekolah.

Ada penekan pada kalimat cerdas dan bertanggung jawab, tentu saja Spektroem yang dikala itu bertandang kelembaga tersebut ingin mengetahuinya apa yang dimaksud dengan cerdas yang bertanggung jawab, apalagi istilah tersebut berkait erat dengan kemajuan informasi Tehnologi (IT).

Saat disinggung arti kecerdasan dan kepintaran, Munir mengatakan memang tipis pengertiannya, ada perbedaan antara kedua istilah tersebut, secara garis besar pintar biasanya dikaitkan dengan prestasi akademik, karena biasanya pintar berkait erat dengan ilmu pengetahuan, sedang cerdas merupakan anugerah bawaan dari setiap manusia, yang berkai erat dengan logika atau daya penalaran, sedang pengetahuan yang ia dapat dari pengetahuan hanya sebagi pendukung.

Munir juga menyinggung sebenarnya kecerdasan tidak hanya tergantung pada Intelgensia Question semata, tapi bisa diolah dengan memberi atau melatih anak untuk menggunakan logikanya atau penalarannya, seperti kecerdasan moral dimana anak dilatih atau diajak untuk berperilaku yang baik, seperti rasa peduli terhadap kawan, lingkungan dan orangtua.,” siswa diajak untuk bisa atau mampu mengelola emosi dan mengenali diri sendiri dan orang lain,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan, biar tidak tertinggal dengan arus kemajuan jaman, salah satu memberi kesempatan anak didiknya untuk membawa Hand Phone dengan syarat disaat mulainya proses belajar mengajar semua HP harus dimatikan, kecuali memang ada tugas dari guru yang berkaitan dengan kegiatan belajar menganjar. Munir juga menerapkan yang bersinggungan dengan spiritual dimana anak hafal dengan ayat-ayat pendek Alquran. ” Untuk anak yang naik kelas VIII harus hapal minimal 15 surat juzz Ama, yang naik kelas IX 20 surat yang lulus 25 surat,” ungkapnya.

Sedang untuk memajukan lembaga pendididikannya Munir menggunakan basis data sebagai instrumen selain pelayanan yang maksimal dari para pengampu pendidikan yang ada. Ia mencontohkan yang berkaitan dengan peduli sosial, bila ada anak yang tidak masuk kita mencari penyebabnya dan setelah itu baru kita menentukan jalan keluarnya. “Sistem pendidikan tidak seperti pendidikan tempo dulu, jadi selalu menekankan pada substansi pendidikan dimana ibaratnya guru itu sebagai bak sampah, harus siap menampung permasalahan anak didik, seperti misal kenakalan anak didik, modalnya sabar dan selalu eksis tanggung jawab terhadap profesi kita,” ujarnya.

Dan saat ini Munir merasakan hasilnya, berbekal basis data yang ada banyak perubahan-perubahan baik itu pada prestasi anak didik, terutama daftar kehadiran anak didik.” Dulu yang mbolos itu bisa di bilang prosentasenya tinggi sekarang mengalami penurunan yang signifikan,” ujarnya ,” dari itu semua bisa menjadi salah satu indikator menuju kekeberhasilan,” imbuhnya.( Wid )

Leave a Reply

Your email address will not be published.